Dalam mengelola manajemen keuangan diperlukan pencatatan akuntansi yang sistematis. Dan hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi jika pembukuan tersebut belum terkomputerisasi, masih dilakukan secara manual. Terkomputerisasi disini berarti menggunakan program akuntansi untuk mencatat semua aliran keuangan dan aset perusahaan. Dengan komputerisasi maka akan diperoleh laporan keuangan secara terperinci dan akurat.
Umumnya dalam suatu perusahaan menggunakan sistem pemisahan kas dalam pencatatan pembukuannya. Maksudnya adalah untuk lebih menyederhanakan proses pembukuan sehari-hari. Untuk transaksi yang berhubungan dengan biaya operasional intern perusahaan sehari-hari yang tidak terlalu besar biasanya digunakan kas kecil. Dan kas besar untuk mencatat arus kas yang lebih global ( modal, rugi laba dan sebagainya).
Terutama pada usaha simpan pinjam, cara ini sangat membantu dalam pencatatan pembukuan. Mengingat produk usaha simpan pinjam adalah modal cash, maka menggunakan kas kecil dalam operasional kantor dapat menghindarkan pencatatan dari terjadinya selisih. Meskipun demikian selisih saldo ataupun setoran masih seringkali terjadi (karena pencatatannya masih manual). Dengan menggunakan program akuntansi maka perusahaan bisa terhindar dari masalah tersebut. Karena jika terjadi selisih maka akan mudah untuk melacaknya.
Proses buka dan tutup kas kecil ini dapat dilakukan dalam periode harian, mingguan ataupun bulanan tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan. Tapi prosedurnya tetap sama, yaitu pada awal periode kas besar melakukan transfer ke kas kecil dan pada akhir periode kas kecil ditutup (kas kecil = 0) dengan cara transfer ke kas besar.